Jumat, 30 Mei 2014

Makan dan Makanan : Sebuah Kebudayaan

Pertanyaan ‘apa itu makan?’ dan ‘apa itu makanan?’ mungkin memiliki jawaban yang berbeda-beda dari setiap individu atau kelompok. Makanan dan kegiatan makan pada dasarnya adalah untuk memenuhi kebutuhan fisik manusia agar dapat terus melangsungkan kehidupannya. Terlepas dari itu, sebenarnya ada faktor lain yang menyebabkan adanya  perilaku makan ini. Apa yang menyebabkan munculnya makanan, bagaimana cara manusia makan, kapan manusia makan dan dengan apa manusia makan, semuanya terkait dengan kebudayaan dimana masyarakat atau kelompok itu berada.

Makanan ada karena ketersediaan sumber pangan dan ketersediaan sumber pangan ada  karena unsur ekologi yang mendukung. Contoh yang paling dekat dengan kita adalah nasi. Mengapa orang Eropa banyak makan roti dan sebagian besar orang Indonesia lebih banyak makan nasi? Bukan karena orang Indonesia memiliki tingkat ekonomi rendah sehingga tidak bisa menjadikan roti sebagai bahan pokok untuk makan. Hal tersebut disebabkan oleh faktor geografis. Padi (Oryza sativa) merupakan tanaman yang cocok ditanam di daerah beriklim tropis. Sedangkan iklim di Eropa tidak mendukung untuk mengembangbiakkan tanaman ini. Maka dari itu, ketersediaan padi di Indonesia melimpah. Kemudian ini dikonsumsi oleh masyarakat di Indonesia secara turun temurun hingga terbentuk mindset ‘bukan makan namanya kalau tidak makan nasi’. Karena faktor geografis inilah yang membuat padi di Indonesia menjadi berlimpah, sehingga makan nasi menjadi sebuah budaya di Indonesia.
Kembali ke penjelasan awal, makanan memiliki fungsi untuk memenuhi kebutuhan biologis manusia dalam menyambung kehidupannya. Tetapi apakah hanya itu saja fungsi dari makanan? Makanan juga memiliki fungsi sosial yang luas. Pertama, makanan berfungsi sebagai perekat hubungan antarindividu atau antarkelompok sosial, tetapi makanan juga bisa membagi individu dalam kelompok-kelompok atau kelas-kelas sosial. Di dunia ini, manusia pasti terbagi-bagi ke dalam kelompok berdasarkan ekonomi hingga politik. Misalnya pada tradisi bajamba oleh masyarakat Minangkabau. Di masyarakat tersebut, tentu ada stratifikasi sosial. Tetapi hal tersebut tidak akan tampak ketika sudah berada di tempat bajamba.

Makan bajamba atau makan barapak adalah tradisi makan yang dilakukan oleh masyarakat minangkabau dengan cara duduk bersama-sama dalam satu ruangan atau tempat tertentu yang telah disepakati bersama-sama. Pada umumnya tradisi makan bajamba dilangsungkan pada hari-hari besar agama Islam, acara adat, atau pertemuan penting lainnya. Tradisi makan bajamba memiliki makna yang sangat dalam terutama dalam hubungan sosial kemasyarakatan. Tradisi ini menandakan rasa kebersamaan tanpa melihat perbedaan status sosial. Ketika makan bajamba diselenggarakan, masyarakat dari berbagai lapisan saling bertemu dan saling bersilaturahmi. Dengan begitu, makan bajamba dapat berfungsi untuk menjaga hubungan masyarakat tanpa melihat stratifikasi.

Makanan dan kegiatan makan memang bisa menjadi sarana pemersatu kelompok, tetapi makanan bisa membagi masyarakat ke dalam kelompok-kelompok sosial. Salah satu kalimat dari lirik lagu Gombloh yang berjudul Anak Singkong : ‘aku suka singkong, kau suka keju’,  menunjukkan bahwa makanan bisa membagi masyarakat dalam strata sosial. Singkong merupakan makanan yang murah, mudah ditemukan dimana pun karena mudah pengembakbiakannya serta mudah diolah siapapun. Sedangkan keju adalah makanan yang mahal dan dalam pengolahannya tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang (harus ada orang yang ahli). Maka dari itu, singkong diidentikkan dengan kelas sosial menengah ke bawah dan keju diidentikkan dengan kelas sosial menengah ke atas.

Kedua, fungsi lain dari makanan dan kegiatan makan adalah sebagai ‘arena’ untuk negosiasi politik. Pemegang-pemegang kekuasaan di Negara biasanya melakukan negosiasi politik kepada rivalnya di sebuah meja dalam jamuan makan. Seperti yang dilakukan oleh Gubernur DKI Jakarta, Joko Widodo atau Jokowi. Jokowi memanfaatkan kegiatan makan sebagai alat untuk bernegosiasi dengan warga Petukangan yang memprotes pembangunan Jalan Tol Jakarta Outer Ring Road West 2 (JORR W2) sehingga suasanya yang sebelumnya tegang menjadi cair.

Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa makanan tidak hanya untuk kebutuhan metabolisme tubuh, tetapi juga terdapat fungsi-fungsi sosial di baliknya. 

P.S : ini sebenarnya tugas mata kuliah Makanan dan Kebudayaan. Tapi iseng aja saya posting di sini. Hehehe